Hidup untuk Berbagi Hidup untuk Berbagi

Tuesday, December 8, 2009

Hidup untuk Berbagi

. Tuesday, December 8, 2009

Hidup didunia fana ini mutlak “membutuhkan” dan “dibutuhkan”. Makhluk apapun dia. Dan hidup ini mutlak ada akhirnya. Fenomena sekarang sudah terlihat bahwa manusia sebagai makhluk hidup sudah mulai terasa menghindar dari dua kata itu. Kalau ditarik kesimpulan bisa dijumpai bahwa sudah lebih dari 50% manusia tidak lagi berada pada kontek ”membutuhkan” dan ”dibutuhkan”.

Sudah berapa manusia yang hidup lalu meninggal. Yang membaca berita ini pun Insya Allah akan meninggal. Jadi apa sesungguhnya esensi hidup ini? Adakah kita sudah telah siap dengan akhir kehidupan ini?

Saya menjamin bahwa saya dan yang membaca tulisan ini pasti tidak mengetahui akhir kehidupannya. Bahwa kita cenderung takut untuk mengakhiri hidup ini. Dalam kehidupan kita sehari-hari telah banyak kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, sudah berapa manusia dan makhluk lainnya yang mati dan tidak pernah kembali lagi di kehidupan kita sehari-hari.

Kalau memang ini yang sedang sama-sama kita fikirkan, maka upaya kita untuk mengakhiri hidup ini agar indah dan bermakna adalah memahami arti hidup kita sebagai bagian dari makhluk dan ciptaan Tuhan. Memaknai bagaimana hidup bisa berbagi dengan sesama. Memaknai hidup agar penuh dengan tabungan di hari kelak yang kita yakini sebagai kehidupan yang hakiki dan abadi.

Pastinya kita hidup di dunia ini tak menginginkan ”penderitaan” secuilpun. Kita pasti ingin memiliki hidup dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan materi apalagi.

Tapi kenyataan hidup yang kita liat dan rasakan ternyata masih banyak manusia yang hidup dengan penuh penderitaan. Penderitaan materi, batin, watak dan karaktek. Dan masih banyak lagi jenis penderitaan lainnya.

Bukan saja manusia yang mengalami hal seperti itu, makhluk Tuhan yang lain pun kita bisa lihat. Ambil saja contoh hutan kita dengan aneka tanaman hayatinya, ”mati” dan rusak akibat ulah manusia.

Kita terlalu dipertuankan menjadi orang yang rakus, serakah. Akibatnya tak lagi memiliki rasa dengan sesama. Bahkan atas nama rakus dan serakah kita ”libas” apa saja yang menghalangi. Hidup seperti itu memang tidak indah. Bahkan Tuhan kita mengutuknya.

Bahkan kita sangat bangga dengan materi yang berlimpah. Hidup mewah dan kekayaan yang belimpah ruah adalah kiblat hidup kita. Meski orang lain akan menjadi korban, tidak peduli.

Cermin kehidupan inilah yang menghantar karakter kehidupan kita yang tak lagi memiliki ”rasa”. Dan inilah cikal bakal yang akan menghancurkan nilai-nilai kasih sayang dan mencintai sesama. Inilah yang menghancurkan sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

Harapan saya, dengan hidup saling menghargai, saling menolong, saling menyayangi kepada siapapun makhluk Tuhan di muka bumi ini, Insya Allah berkah akan turun dari langit dan bumi Allah untuk kemakmuran kita bersama. Dan yang paling hakiki lagi, ”hidup kaya raya, mati masuk surga”

Dengan tulisan ini saya pun berharap mengunjung http://www.franco.web.id/ dan http://www.goo-sharing.com/ bisa membacanya dan memaknai pentingnya ”hidup untuk berbagi”


1 komentar :

Franco Escobar said...

boleh membuat arikel lbh dr 1. syarat dpt dilihat di http://www.franco.web.id/2009/12/peserta-franco-seo-contest.html

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

Terimakasih banyak atas kunjungannya